Archive for February, 2007

Haji Madu dan Haji Racun

Tuesday, February 27th, 2007
Haji Madu dan Haji RacunOleh Emha Ainun Nadjib

Hari-hari ini adalah hari 'H' di mana rombongan-rombongan awal jamaahcalon haji kita mulai bersiap berangkat.

Ini adalah sebuah keindahan. Kita mengayubagya mereka semua. Kitasemua Umat Islam bagaikan sedang berada di menit-menit yang penuh rasapenasaran.

Sesaat lagi lagu-lagu rindu keilahian akan terdengar. Lantunan suaratalbiyah cinta akan bangkit dari seluruh permukaan bumi, bagai beribugugusan cahaya yang bangkit tegak lurus ke langit.

Gunung-gunung, hutan belantara dan kebun-kebun, angin, dedaunan, akanmenari-nari. Dan langit menyiapkan spiritual receiver-nya yangterjernih. Ribuan malaikat Allah akan mengangkut di pundak-pundakmereka lagu-lagu jawaban para hamba Allah atas panggilan cinta, untukdihamparkan dan ditata di halaman rumah sejati Allah nun jauh di arasylaisa kamitslihi syai-un. Ah, betapa bahagianya mereka yang kini mulaiberbondong-bondong ke Baitullah. Mereka bukan saja akan menciumi hajarAswad, mengitari Ka'bah dalam emosi cinta yang meluap-luap. Merekabukan saja akan berjajar memenuhi Masjidil Haram -- tapi juga siapberjamaah salat dengan semua Nabi dan Rasul, segenap Aulia, Jin-jinmukmin-muslim, bahkan dengan debu-debu dan kehangatan matahari yangsemuanya itu bertasbih.

Ya Allah... dan Rasulullah Muhammad SAW yang amat amat amat kitacintai, berdiri sebagai Imam salat kita semua! Kita yang tertinggal ditanah air siap menangis. Siap meneteskan airmata, dengan rasa cemburu.

***

Menurut sebuah berita keislaman lama, terdapat sebuah interpretasiyang mengidentifikasikan ibadah haji dengan lambang air madu.Besertaan dengan ini salat dilambangkan oleh air hujan yang pangkaldan ujung maknanya adalah pencahayaan. Puasa disimbolkan oleh khamaryang mengempasiskan proses peragian rohani atau sublimasi kepribadian.Sementara zakat dimetaforkan oleh air susu yang inti kearifannyaadalah keberbagian atau kesediaan berbagi.

Haji madu! Haji madu! Saudara-saudara kita yang pergi memenuhipanggilan cinta itu berangkat memproses pencapaian kualitas madu bagikepribadiannya. Nanti kalau mereka kembali ke tengah kita, makasiap-siaplah mendengarkan betapa setiap ucapannya akan bermutu bagaimadu. Setiap perilakunya, setiap gerak geriknya, setiap keputusan dansikap sosialnya -- baik dalam pergaulan kesehariannya maupun dalamketerlibatan kolektifnya pada sistem-sistem sosial -- akan memancarkankualitas madu.

Seandainya seorang Muslim sekadar sampai pada taraf syahadat saja pun-- berkat ikrarnya atas Allah dan Rasulullah -- pun mestinya ia akantak mungkin menyakiti kita. Tak mungkin mendustai kita, menggusurnasib kita, mengakali kebodohan kita, menindas kelemahan kita.

Apalagi jika hamba Allah itu telah pula melakukan salat. Orang yangsudah mengangkat tangan dan mengucapkan 'Allahu Akbar' di awal salat,mana mungkin punya sifat egosentris, mana mungkin memusatkan kehidupanini pada kepentingan sendiri, pada kemapanan kekuasaannya sendiri,atau pada pamrih keuntungan ekonominya sendiri.

Orang yang ketika melakukan salat dan bersujud atau berpose menyerupaibinatang berkaki empat dan mengucapkan ''Maha Suci Allah yang MahaTinggi'' dalam kedudukan sebagai 'aku' atau individual (: robbiya);atau ketika beruku' bagaikan kanguru menunduk dan juga dalam posisisebagai 'aku' atau individual; lantas ketika berdiri bersedekapmengucapkan ''hanya kepadamu kami menyembah...'' atau memposisikandirinya tidak sebagai individu melainkan sebagai 'kebersamaan sosial'-- mana mungkin terlibat dalam ketidakadilan, otoritarianisme,fasisme, korupsi, manipulasi atau monopoli.

Kalau sudah melakukan salat tapi tetap mengerjakan hal-hal itu, makatentu mereka adalah alladzina hum 'an sholatihim sahun -- orang-orangyang memperlakukan salatnya dengan kelalaian dan pelecehan -- sehingganeraka Wail yang dijanjikan oleh Allah atas mereka. Sebab yang merekaproduksi di muka bumi adalah neraka-neraka kecil, perusakan danpenghancuran atas wajib bareng-barengnya kesejahteraan bagaimana yangdiamanatkan oleh Allah SWT.

***

Jadi betapa indahnya perilaku, ucapan, peran, sosial dan mutuintegritas orang yang telah naik haji.

Tapi kalau ternyata tidak demikian -- menangislah. Kalau ternyata disekitarmu bahkan ada haji-haji racun, berlindunglah kepada Allah SWT.

Bermacam-macam dorongan yang membuat orang-orang pergi haji. Ada yangkarena kerinduan bertahun-tahun. Ada yang memang benar-benar karenaingin mematangkan dan menyempurnakan kemuslimannya. Ada juga yangkebetulan dapat jatah. Ada yang biaya naik haji baginya sama denganmakan malam beberapa kali, sehingga pergi ke Mekkah itu tidakistimewa, dan ketika merancangnya seakan-akan ia akan berpariwisata.

Atau mungkin ada yang buntu hidupnya, dipenjarakan ia olehproblem-problem, sehingga ia yakini hanya di Baitullah segalasesuatunya bisa dibereskan.

Seorang kawan hendak naik haji dengan perasaan bahwa bukan tidakmungkin ia tak akan pernah kembali ke tanah air. Ia mintai sayamenemaninya pada minggu-minggu menjelang berangkat. Ia bereskan semuahutangnya, ia beredar minta maaf kepada siapa saja yang ia pernahmelakukan kesalahan. Ia jaga perilakunya sebaik mungkin dan iahindarkan dari dosa sekecil apapun.

Tapi ada juga seorang kawan lain yang mengeluh kepada saya betapacalon istrinya mengisi hidupnya pada bulan-bulan menjelang naik hajidengan cara yang sangat aneh.

''Hampir setiap hari ia menyakiti saya,'' katanya, ''ia selalumenuntut kejujuran saya tapi ia sendiri mempersembahkan kepada sayadusta, kebohongan, pengingkaran janji, siksaan, kekejaman. Jangankanmemperlakukan saya sebagai calon suami yang ia janjikan denganberbagai komitmen; sedangkan memperlakukan saya sebagai manusia --nguwongke -- saja ia hampir tak lakukan. Saya bukan membesar-besarkan:ia benar-benar secara sangat ekstrem melakukan hal itu dari jam kejam. Ia seperti sedang dikuasai entah oleh setan atau jin apa. Bahkanterakhir saya menjumpai -- maaf -- gambar buka aurat dia, dan entahsiapa yang memfotonya. Saya boleh menangis, 'kan, meskipun sayalaki-laki? Juga saya sama sekali tidak mengerti bagaimana mungkin iamenghimpun kelaliman itu menjelang pertemuan agungnya dengan Allah?Apakah saya akan tidak mensupport keberangkatannya naik haji?''

Saya merasa tidak mampu meneruskan tulisan ini, sebagaimana saya jugamerasa tidak sanggup memberikan jawaban atau saran apapun kepada temankita ini.

Tapi saya mencobanya. ''Mungkin Allah menawarimu kemuliaan tingkattinggi. Di puncak sakit hatimu dan hancurnya harga dirimu, engkauditantang untuk sanggup memanfaatkannya, karena hanya jika engkaumemaafkannya maka Allah akan juga mengampuninya. Memaafkan adalahsatu-satunya jalan: bukankah engkau sangat mencintainya?''

''Ya,'' jawab kawan ini, dengan nada ragu.

''Islam mengenalkan kepada kita konsep husnul khathimah, akhir yangbaik. Mudah-mudahan ia memang sedang terserap oleh puncak kegelapanhidupnya, semoga pula Allah nanti membenturnya, kemudianmenganugerahinya hidayah dan cahaya.''

''Tapi bagaimana kalau Allah ternyata membiarkannya?'' ia tampaksangat cemas, ''di tanah suci ia tak mengalami apa-apa, nanti pulangjuga tidak berubah apa-apa?''

''Satu-satunya jalan yang bisa engkau tempuh adalah tidakber-su-udhdhon atau bersangka buruk kepada Allah. Bukankah yangterindah dalam hidup ini adalah kebesaran jiwa untuk disakiti olehkegelapan, kemudian memohonkan kepada Allah perkenan untuk mengubahnyamenjadi cahaya?''....

Ah, teori! Tampaknya aku sendiri seandainya itu semua benar tak mampumenyangga pengalaman semacam itu. Haji racun. Tapi tak mungkin hajiitu meracuni. Tidak. Bukankah Mike Tyson memperkosa, untuk beberapatahun kemudian bersujud syukur di hadapan ratusan juta penonton?